Welcome to my Blog, OT Medical Blog!!!

Disini saya akan memaparkan tentang Apa Itu Okupasi Terapi??

Banyak orang yang belum mengenal Okupasi Terapi itu, kebanyakan orang lebih mengenal Fisioterapi dari pada Okupasi Terapi. Maka dari itu disini saya akan mengenalkan apa itu Okupasi Terapi.


Definisi Okupasi Terapi

Terapi okupasi disini adalah jenis terapi yang secara khusus digunakan untuk membantu orang-orang untuk hidup mandiri dengan berbagai kondisi kesehatan yang telah ada. Terapi ini digunakan sebagai bagian dari program pengobatan untuk orang-orang yang mengidap suatu penyakit, seperti keterlambatan perkembangan sejak lahir, masalah psikologis, atau cedera jangka panjang. Tujuan utama dari terapi okupasi adalah untuk membantu meningkatkan kualitas hidup mereka dalam memaksimalkan kemandirian. Hal ini membantu pasien mendapatkan harapan positif dan tujuan hidup.

Terapi okupasi mencakup program pengobatan yang beragam dan unik untuk masing-masing pasien yang bertujuan untuk membantu pasien dalam mencapai kepuasan hidup and memastikan bahwa mereka mendapatkan pandangan yang positif.

Terapis okupasi membantu pasien dari semua kalangan umur, dari anak hingga lansia. Pada pasien anak, perhatian lebih diberikan untuk perkembangan kemampuan konsentrasi dan bersosialisasi.
Sasaran Terapi Okupasi.

Di Indonesia terapi okupasi masih sangat langka. Dibandingkan dengan Fisioterapi, terapi okupasi masih beberapa persen di Indonesia. Ini dikarenakan kamus yang memiliki jurusan Okupasi Terapi hanya ada dua di Indonesia yaitu di Poltekkes Surakarta dan Universitas Indonesia.

Terapi okupasi memiliki banyak unsur, karena tujuannya adalah untuk membantu pasien secara keseluruhan untuk kesehatannya dalam konteks aktivitas kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pasien yang sedang menjalani terapi ini akan mendapatkan pengarahan dan latihan dalam berbagai hal, antara lain:

  • Perawatan pribadi – Pasien yang menjalani terapi okupasi akan dilatih untuk merawat dirinya meskipun dalam keadaan sakit. Contoh perawatan diri yang diajarkan seperti makan, mandi, dan berpakaian.
  • Pekerjaan rumah – Untuk mencapai kehidupan normal sebisa mungkin , pasien juga dilatih untuk menjalani aktivitas sehari-hari di dalam rumah seperti membersihkan rumah, memasak, dan berkebun.
  • Pengelolaan diri – Untuk membantu pasien memiliki kehidupan yang produktif, terapi okupasi juga mengajarkan untuk menyusun jadwal sehari-hari seperti orang-orang pada umumnya.
  • Mobilitas – Jika pasien berencana mengemudi atau menggunakan mode transportasi lain, program ini akan mengajarkan mereka untuk melakukannya dengan aman. Para terapis bertanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan yang perlu dimiliki dalam mengemudi seperti kemampuan menilai, mengambil keputusan, dan berpikir.
  • Latihan fisik – Sebagai bagian dari program, latihan fisik juga memiliki andil yang besar dalam terapi okupasi. Pasien yang menderita penyakit kronik atau dalam tahap pemulihan cedera perlu untuk tetap aktif. Para pasien akan dilatih untuk mempertahankan gerakan sendi, kekuatan otot, fleksibilitas, dan postur, dengan cara yang aman dan tidak menghabiskan seluruh energinya.
  • Menggunakan alat bantu – Jika pasien perlu menggunakan alat bantu seperti gips, penyangga, kursi roda, perlengkapan dengan kendali komputer, dan sejenisnya sebagai bagian dari terapinya, para terapis juga bertanggung jawab untuk mencari metode alternatif untuk menjalani aktivitas sehari-hari yang mampu dilaksanakan pasien; seperti penggunaan sikat gigi elektrik, pembuka kaleng elektrik, keyboard khusus, dan sebagainya. Dengan adanya perkembangan teknologi, peralatan dengan kontrol suara juga dapat digunakan untuk membantu pasien yang mengalami gangguan pergerakan.
  • Keamanan fisik – Hal ini juga merupakan tugas terapis untuk memastikan keamanan fisik pasien dalam lingkungannya. Bila perlu, dapat dilakukan peningkatan keamanan pada hal-hal sederhana seperti meletakan keset yang tidak licin di dalam kamar mandi, gagang atau pegangan di tangga, dan peninggian posisi toilet.
  • Rehabilitasi tempat kerja – Elemen terapi ini difokuskan untuk membantu pasien untuk kembali bekerja atau mencari pekerjaan yang cocok dengan kondisi mereka. Pekerjaan pasien dapat berupa pekerjaan yang dibayar atau preokupasi lain seperti relawan atau hanya merawat anak. Tugas terapis adalah untuk mengusulkan beberapa pilihan karir, menilai keamanan tempat kerja, menilai peran dan tanggung jawab pasien, menilai pekerjaan dan kemampuan pasien untuk menjalankannya, menyediakan latihan tambahan jika diperlukan, dan mengedukasi atasan dan teman kerja pasien untuk mengerti kondisi kesehatan pasien.
  • Edukasi untuk keluarga dan pengasuh – Tugas lain dari terapis adalah untuk mengedukasi keluarga dan pengasuh bagaimana merawat dan membantu pasien jika dibutuhkan.

Selain hal-hal yang disebutkan di atas, para terapis juga dapat melakukan peninjauan kembali terhadap aktivitas yang mungkin sulit untuk dilaksanakan pasien, dan mencoba mencari cara untuk membantu pasien melaksanakannya, baik dengan cara sederhana, atau penyelesaian dengan cara baru. Terapis biasanya membagi satu aktivitas ke dalam banyak gerakan kecil dan membantu pasien melakukan gerakan tersebut hingga dapat melaksanakan aktivitas tersebut secara utuh.

Selain memberikan perawatan, bantuan, dan latihan, terapis juga perlu mempertimbangkan biaya terapi yang terjangkau bagi pasien. Terapis juga bertanggung jawab memantau dan mengevaluasi kemajuan pasien dalam beberapa aspek sepert efek fisik, emosional, dan psikologis pada pasien. Jika aspek tertentu tidak memberikan manfaat, diperlukan adanya perubahan rencana intervensi.

Terapi okupasi saat ini banyak tersedia dan mudah dijangkau. Jika terapi ini merupakan bagian dari rencana pengobatan untuk kondisi kesehatan Anda, dokter Anda akan mengarahkan Anda ke seorang terapis. Jika Anda baru menjalani operasi, terapis dapat dihubungi lewat rumah sakit tempat anda menjalani operasi.

Tenaga medis yang menyediakan program terapi okupasi disebut terapis okupasi. Terapi okupasi digunakan untuk membantu:
  • Gangguan mental bawaan dan cacat fisik
  • Cedera akibat kecelakaan kerja (penyembuhan jangka pendek atau cedera jangka panjang)
  • Stroke
  • Penyakit kronik seperti sklerosis multiple, ALS, penyakit Parkinson, penyakit paru obstruktif kronik, dan lain-lain
  • Gangguan belajar
  • Gangguan kesehatan mental seperti Alzheimer atau stress pasca trauma
  • Gangguan perilaku seperti gangguan makan dan penyalahgunaan obat